Search
Close this search box.
Search
Close this search box.

Artikel, Tentang Pondok

Amanat Pimpinan Pondok Modern Ayatuna pada Apel Tahunan Perdana

Ayahanda Pimpinan Pondok Modern Ayatuna, KH. Muhammad Prabasworo Jihwakir dan KH. Muhammad Wiprasworo Jihwamuni menyampaikan amanat pada Apel Tahunan yang menjunjung tema “Ayatuna Membumikan Nilai-Nilai Al-Quran, Melahirkan Pemimpin Bermartabat.” Berikut transkip lengkap risalah tersebut. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله الكريم المنان، ذي الطول والفضل والإحسان، علم القرآن خلق الإنسان وعلمه البيان، الذي دعانا […]

Ayahanda Pimpinan Pondok Modern Ayatuna, KH. Muhammad Prabasworo Jihwakir dan KH. Muhammad Wiprasworo Jihwamuni menyampaikan amanat pada Apel Tahunan yang menjunjung tema “Ayatuna Membumikan Nilai-Nilai Al-Quran, Melahirkan Pemimpin Bermartabat.” Berikut transkip lengkap risalah tersebut.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله الكريم المنان، ذي الطول والفضل والإحسان، علم القرآن خلق الإنسان وعلمه البيان، الذي دعانا للإيمان وفضل ديننا على سائر الأديان، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لاشريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي ولا رسول، صلوات الله عليه وعلى آله وصحابته ومن اتبع هداه إلى يوم الدين. أما بعد

Pimpinan Pondok, para dewan guru dan santri-santri yang kami sayangi,

Perhelatan Apel Tahunan dan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy adalah sunnah dan disiplin pondok. Hari ini, Ahad 17 Agustus 2025 tercatat dalam history book Pondok Modern Ayatuna sebagai Apel Tahunan perdana dalam sejarah pondok. Kita semua yang berdiri dan berhimpun di pelataran pondok ini menjadi bagian dari sejarah, para saksi bahkan pelaku sejarah.

Khutbatul ‘Arsy adalah narasi tertinggi di pondok yang bersifat sakral. Dalam perhelatan ini, para pimpinan pondok menyampaikan risalah-risalah penting yang berkaitan tentang peran dan peta perjuangan pondok, sekaligus untuk mengenalkan pondok dengan sebenar-benarnya kepada seluruh sivitas pondok, baik ketua lembaga, guru maupun santri. Karena memahami pondok jauh lebih penting dari belajar di pondok, apalagi hanya sekedar tinggal di pondok. Oleh karenanya seluruh keluarga besar pondok wajib mengikuti perhelatan yang sakral ini.

Wali santri dan masyarakat pun seharusnya memahami pondok. Supaya tidak salah sangka sehingga salah kaprah dalam menyikapi perjuangan-perjuangan pondok.

Hadirin hadirat yang berbahagia,

Pondok Modern Ayatuna menerapkan pendidikan kehidupan yang holistik. Pendidikan di pondok menghimpun tripusat pendidikan, yakni pendidikan rumah, sekolah dan pendidikan masyarakat. Seluruh kurikulum, sarana prasarana, konten hingga figur-figur pendidik disiapkan untuk dapat menjalankan tiga macam pendidikan yang berjalan 24 jam dalam sehari tanpa henti. Pondok berpegang pada falsafah pendidikan, “apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang dirasakan merupakan pendidikan.”

Tak terkecuali perhelatan Apel Tahunan dan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy juga bagian penting dari pendidikan di Pondok Modern Ayatuna. Para santri dan guru memang tidak sedang berada di ruang-ruang kelas, namun seluruh proses persiapan, pengorganisasian hingga pelaksanaan rangkaian kegiatan ini merupakan kepingan-kepingan pendidikan yang invaluable, tidak terkira nilainya.

Inilah hasil dari kerja keras, pikir keras dan doa keras para santri, para guru dan seluruh sivitas pondok, serta pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga berhasil merekayasa suatu perhelatan yang dahsyat nan elegan. Semuanya dari kita, oleh kita, untuk kita. Dari santri, oleh santri dan untuk santri. Semuanya berperan aktif dan langsung merasakan berbagai dinamika dalam penyelenggaran acara ini. Kalau bukan santri-santri yang luar biasa, tidak akan bisa menyelenggarakan acara sebaik ini.

Inilah alasan kenapa kami selalu optimis setiap kali memandang binaran mata kalian. Para santri, para guru seluruhnya kami didik dan kami tatar supaya siap menjadi pemimpin masa depan. Syubbanul yaum, rijalul ghad, qadatul mustaqbal. Dan ini merupakan salah satu visi dan cita-cita pondok, yakni melahirkan generasi para pemimpin ummat yang mencerahkan bangsa dengan cahaya ilmunya. Liyatafaqqahu fiddin, wa liyundziru qaumahum. Tafaqquh fiddin untuk mencerahkan bangsa. Inilah tugas peradaban dan tugas kemanusiaan kita. Kullukum ra’in wa kullukum mas’uulun ‘an ra’iyyatihi. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kita akan diminta pertanggung jawaban.

Hadirin dan hadirat yang berbahagia,

Mendidik pemimpin yang berkapasitas dan berkarakter luhur merupakan perjuangan yang sangat strategis sekaligus perjuangan yang tak mudah. Inilah as-siyasat al-‘uzhma, higher politics, jalan politik paling tinggi yang merupakan ladang juang para guru bangsa dan guru ummat dari masa ke masa. Dunia mengenal Amasya, salah satu kota yang damai nan sunyi di pedalaman Turki, menjadi ceruk ditempanya para sultan Ottoman, termasuk Muhammad al-Fatih sang penakluk Konstantinopel. Amasya adalah “pesantrennya para pemimpin kesultanan Ottoman”, kawah candradimuka, tempat penggemblengan sehingga beberapa tokoh menyebutnya dengan the cradle of civilization, tempat lahirnya peradaban.

Di jantung kota suci Makkah, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mendidik kader-kader terbaiknya. Dari buaiannya terlahir ulama-ulama revolusioner nusantara. KH. Ahmad Dahlan memprakarsai Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy’ari mempelopori kebangkitan ulama melalui Nahdhatul Ulama’.

Begitupun dengan Pondok Modern Ayatuna yang secara sadar dan sengaja didesain dan direkayasa untuk menjadi persemaian kader-kader pemimpin masa depan. Sunyi dari hiruk pikuk kota, para santri belajar tak hanya sekedar untuk suvive atau bertahan hidup, tapi juga dapat menghidupi. Bukan hanya menjadi insan yang bergerak, namun juga menggerakkan. Tak hanya berjuang tapi juga memperjuangkan.

Masyarakat, ummat, bangsa bahkan dunia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang kuat, baik jiwa maupun raganya, kapasitas maupun karakternya. Karena maju atau mundurnya suatu bangsa tergantung pada pemimpinnya. Baik buruknya suatu bangsa pun tergantung pada baik buruknya seorang pemimpin. Oleh karenanya yang perlu ditempat dan dipersiapkan adalah al-Qawiyyul Amin, pemimpin yang kuat dan terpercaya mendekati insan kamil, yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas serta berjiwa besar. Jiwa yang terisi oleh akhlaq-akhlaq luhur, yakni keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwwah islamiyyah dan kebebasan.

Bukan pemimpin yang ugal-ugalan, menghalalkan segala cara, rewriting laws, mengobrak-ngabrik hukum, mencabik-cabik rasa keadilan, memutus urat malu dan menggadaikan kehormatan hanya untuk kuasa sesaat. Bodoh, culas, jahat, zalim. Ini namanya sudah fasid linafsihi wa mufsidun lighairihi. Zhalim linafsihi wa zhalim lighairihi. Naudzubillah min syarri dzalik.

Rasa malu sebagai benteng kemuliaan manusia (karamatul insan/human dignity) sudah roboh di mana-mana. Pucuk tertinggi merefleksi akar rumputnya. “Yalhats! Yalhats!”, menjilat, rakus, serakah! Tsumma radadnahu asfala safilin. Para koruptor tak malu menjabat lagi. Para mafia persidangan, mafia undang-undang tak malu mengutak-atik pasal untuk mengisi perutnya dan perut kawanannya. Para pemimpin banyak telah kehilangan martabatnya! Tidak tahu malu!

KH. Muhammad Wiprasworo menyampaikan risalah perjuangan Pondok Modern Ayatuna

Hadirin-hadirat yang berbahagia,

Untuk mencetak para pemimpin yang kuat, diperlukan blueprint yang tidak hanya canggih, namun juga suci dari kekotoran-kekotoran yang diproduksi oleh manusia, baik di benak, tutur maupun lakunya. Blueprint itu juga transenden, melintasi zaman, tak lekang oleh waktu. Ajaran modern, yang meski datang dari masa lampau, akan melahirkan peradaban dan kehidupan modern. Sesuatu yang melebihi pengalaman dan khazanah pengetahuan manusia. Ialah wahyu, ialah Quran. Kalamun qadimun, tanazzaha ‘an qaulin wa fi’lin wa niyyatin.

Ummat maju karena mendekap Quran, mundur karena meninggalkannya. Kita berbagi Quran yang sama dengan masa emas Islam: era Rasul bersama para sahabat, namun tidak berbagi kejayaan bersama mereka. Tak ayal, perbedaan kontras antara kita dan mereka yang mulia adalah bagaimana interaksi dengan al-Quran.

Bagaimana keadaan kita adalah bagaimana interaksi kita dengan al-Quran. Sebagai suatu institusi yang semenjak fajarnya merupakan institusi al-Quran, Pondok Modern Ayatuna senantiasa berjuang untuk menyempurnakan seluruh interaksi dengan al-Quran. Ayatuna bukan institusi/pondok Quran hifzhan saja. Tapi menjalankan seluruh interaksi al-Quran dan senantiasa berjuang membumikan nilai-nilai al-Quran dalam kehidupan. Quran bukan menjadi sekedar menjadi pajangan, bukan sekedar bacaan-bacaan sumber kesaktian, bukan ajang festival untuk mencari sorotan, ia adalah jalan hidup, worldview and way of life.

Hanya dengan membumikan nilai-nilai al-Quran dan menjadikannya way of life, kita akan bisa mengembalikan martabat manusia dan martabat para imamnya. Maka Ayatuna senantiasa berjuang membumikan nilai-nilai al-Quran, mencetak pemimpin bermartabat.

Anak-anakku,

Kami titipkan masa depan ummat pada kalian. Jadilah para pemimpin yang Qurani di seluruh lini ummat. Jadilah insinyur yang Qurani, saintis dan teknokrat yang Qurani, dokter yang Qurani, politisi yang Qurani, menteri yang Qurani, presiden yang Qurani, pendidik yang Qurani, ulama yang Qurani.

Di manapun bumi kau pijak, engkah bertanggung jawab atas keIslamannya. Fi ayyi ardhin tatha’ fa antum mas’ulun ‘an islamiha. Jadilah manusia yang benar dan baik. Namun itu belum cukup. Jadilah yang benar dan baik, lantas bermanfaat dan bermartabat.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pondok Modern Ayatuna bercita-cita mewujudkan masyarakat yang rabbani dengan membina kader-kader pemimpin dan mendidik generasi khairu ummah. .”Pimpinan PM Ayatuna

Tags :

Kajian Quran, Motivasi, Qur'an